Untaian Puisiku

Tanpa Kendali

bila hidup harus berperang
maka medan laga adalah tempatku
bila hidup itu strategi
maka aku akan bersiasat
bila hidup itu abadi
maka aku akan mempertahankannya
dan bila hidup itu sebuah kematian
maka aku akan mempersiapkannya

Pemuda Harapan Bangsa

Edisi Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2014 Sungguh pernyataan sekaligus pertanyaan yang mendasar. Menjaga nama baik, kalimat yang sederhana dari segi morfologi dan juga sintaksis. Ternyata mengandung sebuah makna yang menjadi dasar terciptanya hubungan yang berkesinambungan. Hal tersebut bukan sekedar isu. Untuk menjunjung sebuah Negara haruslah dimulai dari hal terkecil, yaitu menjaga harga diri sendiri. Keadaan yang mencengangkan bahwa sebagian pemuda Indonesia tidak mementingkan harga diri mereka, belum dapat menjaga harga diri mereka. Apakah mereka dapat menjaga nama baik keluarga sedangkan nama baiknya sendiri terabaikan? Apakah mereka dapat menjaga nama baik Negara sedangkan mereka tidak peduli lagi akan harga dirinya. Inilah kajian yang harus diselesaikan secara mendasar. Ibarat bom waktu yang akan meledak tinggal menunggu titik stagnas. Bukan amunisi atau TNT yang menjadi bahan peledaknya melainkan kebodohan mereka yang tidak menjunjung harga diri mereka masing-masing. Lalu siapa yang harus bertanggung jawab dari permasalahan tersebut, tentunya mereka yang memiliki buah hati, siapa lagi kalau bukan orang tua mereka sendiri. Tapi yang menjadi pertanyaan lagi. Apakah orang tua mereka juga dapat menjaga nama baik dari keluarga? Sebelum membahas korupsi, teroris, atau kasus kejahatan yang lain, bahaslah masalah ini terlebih dahulu. 

Negara akan maju ditentukan oleh pemudanya. 
Negara mundur juga karena pemudanya.

Salam Sapa Penulis



Menulis merupakan hal yang membosan bagi sebagian orang. Hal tersebut dimungkinkan karena banyak faktor yang mempengaruhi. Sulit menemukan ide/gagasan untuk diulas merupakan kendala (faktor kunci) yang sangat sering dialami oleh golongan pemula, sehingga mereka enggan untuk berjibaku dalam hal menulis. Bahkan bagi para pakar yang telah handal kadang mengalami kebuntuan berpikir ketika mengembangkan kerangka tulisannya.
Jangan merasa pesimis, katakan “optimis”. Mengapa seseorang mengalami kesulitan saat mengembangkan rangkaian kata menjadi ulasan yang bermakna? Jawabnya sangat mudah, yaitu karena sebagian dari mereka kurang memiliki sumber referensi yang cukup.
Upaya mengatasi rasa enggan dan juga kebuntuan tidak serta merta dapat dilakukan secara instan. Seribu proses harus ditempuh. Bagaimanakah caranya?
1000 cerita tentang proses yang harus ditempuh mustahil terlaksana seandainya tidak mampu membuka tabir rahasia kemudahan menulis. Tahukah rahasia kemudahan menulis itu?
Kuncinya hanya satu “Gemar Membaca”
Paksalah naluri kita untuk menerima hal-hal baru dari membaca. Kegiatan membaca akan menambah khasanah referensi keilmuan secara langsung. Apabila “gemar membaca” sudah melekat, al hasil tak sedetik pun naluri kita membiarkan tubuh kita untuk diam. Naluri kita akan menyentak organ-organ tubuh untuk selalu bergerak. Nah gerakan-gerakan yang diciptakan ini akan memicu pola pikir kita untuk melakukan kegiatan yang tidak berlawanan dengan input dari membaca. Dengan kata yang lebih mudah, gerakan tersebut bersenergi menggambarkan output dari rangkaian “gemar membaca”.
Mengenai 1000 proses yang harus ditempuh? Jangan khawatir, 1000 proses itu akan berubah menjadi 1000 proses menuju kesuksesan dalam menulis. Seirama “gemar membaca”, 1000 proses itu tanpa disadari telah mengawal kita. Masih bingung?
Mulailah “gemar membaca” dalam kurun waktu singkat, kita akan menemukan apa yang kita cari.

Tips “gemar membaca” : Jangan terlalu memilih apalagi memilah bahan bacaan.